Upiak toursumbar
Adat Artikel

Si Upiak Kini Alah Gadang

Pernikahan dalam setiap budaya ataupun diujarkan dalam bahasa yang berbeda akan tetap menjadi sebuah momen sakral tentang berbagi dan bersama. Sebagai satu bahasa universal pernikahan memiliki corak tersendiri dalam keberagaman budaya dan kepercayaan di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, pernikahan merupakan ikatan antar keluarga dan memiliki kebiasaan tersendiri serta adat serta tabiat yang diamini bersama dalam sistem sosialnya.

Di dalam budaya Minangkabau sendiri pernikahan adalah sebuah festival perayaan yang mengikutkan peran hampir semua lapisan masyarakat. Pernikahan bukan hanya tentang “I do” atau “will you marry me”, ada kompleksitas budaya dan keribetan tersendiri yang menjadikannya berbudaya. Pada saatnya, ketika si upiak kini lah gadang, si bujang kini lah patuik, alek ka diagak, nan patuik ka dijalang, ada semangat kegotong-royongan, silaturrahmi, dan keterlibatan serta rasa memiliki dari alek terwujud di dalamnya.

Dalam pelaksanaannya sendiri, Minangkabau memiliki keanggunan tersendiri dalam sistem bertutur, dalam bermufakat, dalam bersepakat. Pernikahan, salah satunya, pun tidak terlepas dari bentuk-bentuk keramah-tamahan ini. Terdapat belitan-belitan dalam tatanan dan adat yang dipakai yang tidak lain bertujuan untuk mengeratkan silaturahmi dan menjaga keanggunan dari cara Minangkabau dalam berbudaya.

Baalua atau adu balam sebagaimana telah dibahas pada artikel sebelumnya, adalah sebuah bentuk perwujudan dari seni dalam bertutur kata, cara berbasa-basi dan menyampaikan maksud dan tujuan secara implisit. Seni bertutur kata ini sendiri merupakan salah satu cara Minangkabau dalam berbudaya layaknya makna metaforis yang dalam budaya barat diungkapkan dengan cara yang berbeda, seperti meminang dengan meletakkan cincin di dalam gelas, setelah airnya habis diminum maksudnya tersampaikan, keanggunan ini pula lah yang mendasari Minangkabau dalam merumuskan seni dalam bertutur kata, sebuah cara untuk menyampaikan maksud dimana kedua belah pihak telah sama memahami. Baalua adalah satu cara Minangkabau untuk saling berkomunikasi dengan kerumitannya sendiri untuk tidak langsung mengacu pada tujuan namun menjaga keanggunan dan cara-cara tersendiri.

si upiak kini lah gadang

Dalam sistem sosial dan masyarakatnya sendiri, pernikahan di Minangkabau menjadi kompleks karena perhelatannya digelar dan diorganisir oleh masyarakatnya sendiri. Minangkabau secara adatnya tidak mengenal sistem wedding organizer atau sistem modern lainnya karena setiap peranan dan tatanan upacara pernikahan disepakati bersama dan mengikuti sistem kekerabatan yang telah ada dan diamini bersama. Penyampaian dari perhelatannya sendiri pun memiliki kekhasan tersendiri, melibatkan siriah jo pinang, dan undangannya pun disebar dengan perwakilan dari sistem persukuan kepada keluarga-keluarga yang terkait, menggunakan pakaian adat, dan dengan adatnya tersendiri.

Namun seiring waktu, beberapa tata cara dalam pernikahan di Minangkabau mulai ditanggalkan, beberapa dianggap tidak efisien ataupun tidak mengikuti zaman. Pergeseran-pergeseran budaya ini hendaknya tidak menggerus nilai-nilai yang terkandung dalam sistem seremonial pernikahan di Minangkabau itu sendiri. Pernikahan yang selama ini dimaknai sebagai sakralitas dan seremonial ternyata dapat dimaknai lebih dalam dan memiliki corak serta keberagaman tersendiri di setiap adat budaya yang dijunjung dalam sistem sosial masyarakat. Di Minangkabau menikah tetap dimaknai sebagai satu perwujudan niat baik anak kamanakan, namun dalam tatanan dan cara perhelatannya terkandung banyak nilai-nilai yang dapat dimaknai dan dijaga sebagai sebuah warisan budaya.

Mandeh kanduang badan dek diri

Alah gadang anak mandeh kini

Kini kadisuntiang urang

Jo a lah jasomandeh jo ayah kadibaleh

Dari ketek mandeh jo ayah gadangkan

Diasuah jo kasiah sayang

Kain pandukuang alun taganti.

minangisme-long-banner
Skip to toolbar