Artikel Carito Urang Gaek

Gadis Ranti Primadona Nagari Bonjol

minang_kabau_seremony_by_styvop-d5dr4go_zps8de03662

(Cerita Koto Kaciak, Bonjol) – Gadis Ranti sedang berada di atas anjung peranginan pada saat matahari telah jauh condong ke Barat. Sedari hatinya terasa muak, hingga umurnya tujuh belas tahun ini tidak banyak yang telah ia perbuat, tidak banyak ia bisa meninggalkan rumah. Ia selalu dipingit.

 

Bagaimana hatinya selalu berontak ketika memperhatikan burung-burung berkicau ria melompat dari dahan ke dahan kayu, melihat teman sebayanya bersuka ria membalik tanah persawahan yang terhampar luas di depan matanya. Kini kelahirannya sebagai turunan putri-putri, sebagai anak-anak raja di Tilatang ini dirasakannya sebagai kungkungan yang mengesalkan. Apalagi kalau ia ingat bagaimana orangtuanya selalu mendesak untuk dikawinkan dengan anak mamaknya.

Di dalam keharuan itu, ia ingat nama Pasaman yang selalu disebut-sebut orang. Suatu tempat yang subur di mana orang-orang kampungnya ramai membuka sawah, ladang serta kampung baru (taratak). Kini, Pasaman di dalam khayalannya dirasa sebagai tempat di mana ia akan mencoba mendapatkan kebebasannya. dibulatkan hatinya untuk pergi ke daerah itu secara sembunyi-sembunyi.

Adapun jalan yang resmi untuk ke Pasaman adalah pertama melalui Pematang Panjang, kedua melalui pantai Barat, Batu Kambing. Supaya tidak diketahui orang, ia mengambil jalan kecil.

 

gadih-ranti

 

pada waktu yang dikira tepat, Gadis Ranti meninggalkan rumah secara diam-diam ditemani oleh beberapa orang dayangnya. Jalan yang ia lalui adalah Bukit Suayan, Siamang babunyi, Siantak Rang Liki, Suliki dan Koto Tinggi. Dari sini ia mulai menurun yang kemudian berakhir di Bonjol. Demikianlah merera samapi di Bonjo dengan keadaan selamat.

Di Bonjol berakhirlah perjalanan di dalam rimba. Ia telah berada di tengah-tengah orang ramai. Betapa besar hatinya setelah menempuh perjalanan yang berbahaya itu. Bajunya yang telah lusuh di perjalanan diganti dengan yang paling baik kemudian ia menghias diri. Dalam keadaan ini ia bersama dayang-dayang memunculkan diri di tengah-tengah masyarakat yang dilihatnya sangat sederhana itu. Maklumlah Gadis Ranti , orang turunan Putri-putri, orang yang dipingit sejak kecil, yang kecantikannya sulit mencarikan tandingannya. Orang melihatnya jadi mengucap-ucap karna kagum. Kehadiran Gadis Ranti sangat lengket di hati mereka terutama gadis-gadis sehingga ditiru. Konon itulah sebabnya, mengapa sampai sekarang wanita dan gadis-gadis Bonjol sangat necis-necis dalam berpakaian.

Ia melanjutkan perjalanan menuju arah Kumpulan. Di sini tumbuh batang kelapa. Gadis Ranti  menyuruh mengambil satu buah lalu diminumnya air kelapa muda untuk pelapas dahaga, sedangkan isi kelapanya diperas lalu keluarlah minyaknya dan dibalurkan ke rambutnya. Melihat hal itu, orang banyak mencoba seperti yang diperbuat Gadis Ranti karena banyaknya orang yang mencoba dibandingkan dengan jumlah kelapa yang ada, orang lalu kehabisan kelapa. Semenjak itu mereka berusaha menanam kelapa banyak – banyak. Itu sebabnya sampai sekarang, banyak batang kelapa di Kumpulan.

Perjalanan dilanjutkan terus ke arah Simpan menuju Malampah. Pada sebuah pancuran yang indah, Gadis Ranti berhenti melepaskan lelah, haus serta lapar; disini ia makan, minum serta mandi-mandi. Sampai sekarang masih kelihatan susunan piring-piring serta lipatan kain-kain kepunyaan Gadis Ranti hanya saja sudah menjadi batu.

Sesudah mandi dan beristirahat di Simpang, pakaian yang telah lusuh dalam perjalan diganti dengan yang sederhana saja. Dengan pakaian demikian ia meneruskan perjalanan menuju Padang Ganting. Kesederhanaan Gadis Ranti ini melekat pula di hati rakyat di sana. Sampai kini dapat dilihat, berbeda dengan kampung sekitarnya, cara-cara hidup orang di Padang Ganting amatlah sederhana.

Pada perjalanan berikutnya, ia bertemu dengan batang air masang. pada pertemuan, itu ada nagari bernama Padang Sawah. Melihat pemandangan yang indah ditambah dengan rasa badan yang telah teramat lelah, ia berhenti disitu. Pada waktu itu, hari telah sore, orang-orang telah kembali dari sawah ladang. Dengan demikian, Gadis Ranti dapat bertemu berhadapan muka dengan rakyat di sana. Di dalam beramah tamah dengan orang di sana, orang amat terkesan dengan tata cara yang lembut dan pemurah senyum. Itu sebabnya sampai sekarang penduduk Padang Sawah terkenal sebagai dengan orang-orang yang lemah lembut dan bermuka cerah. Perjalannya hanya sampai di sini, lalu ia kemabali ke Padang Ganting.

 

minang_kabau_seremony_by_styvop-d5dr4go_zps8de03662

 

Di daerah Padang Ganting ini, ada sebuah kampung bernama Puar Ranah. Di sana ada seorang wanita yang telah berumur, anamnya Ibu Rubiah. Di rumah Ibu Rubiah lah Gadis Ranti menetap dan mengakhiri pengembaraannya. Ia membiasakan dirinya, seakan-akan Ibu Rubiah adalah ibu kandungnya dan Padang Ganting sebagai kampungnya sendiri.

Di sini ia perlihatkan kemahirannya sebagai wanita sejati, masak-masak, jahit-menjahit, tutur kata dan tingkah laku sopan. Di sini b=orang belum mengenal hal tersebut sebab perhatian mereka tercurah hanya kepada penggarapan sawah dan ladang baru, mereka mengabaikan aspek-aspek hidup lain yang tak kalah pentingnya. Orang kampung meniru dengan sungguh-sunggu dan dengan ini Gadis Ranti cepat termahsyur ke nagar9i-nagari sekitar Padang Ganting.

Pada suatu masa, datanglah seorang raja hendak meminang Gadis Ranti. Ia adalah seorang Raja di Kayu Pasak, daerah Palembayan. Utusan raja diterima dengan baik oleh Gadis Ranti. Mulanya Gadis Ranti meminta supaya utusan itu mencerikatan kekuasaan raja; luas daerahnya, banyak penduduknya dan tentang penghidupan penduduknya.

Utusan itu menceritakan yang diminta oleh Gadis Ranti. Kemudian Gadis Ranti menjawab, “aku akan menerima pinangan ini dengan syarat, dalam masa tiga bulan sediakan kerbau ternak lengkap dengan padangnya; sebuah rumah yang elok lengkap dengan msjid dan tepian mandi.” Senanglah hati utusan itu meninggalkan rumah Gadis Ranti.

Setelah waktu yang ditentukan, dihitung-hitung sega yang telah bisa disediakan. Ternyata masih belum seperti apa yang Gadis Ranti inginkan. karena sakit hatinya, raja menyumpahi apa-apa yang telah ia sediakan sehingga segala ternak seperti kerbau, kambing dan ayam langsung menjadi batu. Sampai kini masih ada batu – batu itu yaitu di Padang Kabau di mana dapat dilihat batu berupa kerbau, tali serta kandang ayam.

Di Kampung Ranah, di tempat Gadis Ranti tinggal sekarang, berkuasa seorang raja bernama Reno Sati. Anak gadisnya bernama Putri Reno Gelang. Putri ini bertunangan dengan Datuk Temenggung Sati dari nagari Padang Tinggi. Oleh karena sifatnya yang ramahm tutur kata yang lemat lembut, maka dalam waktu yang singkat, Gadis Ranti telah berkenalan dengan keluarga Reno Sati termasuk pula Datuk Temenggung Satu. Tetapi keakraban itu menyebabkan lahirnya sifat cemburu Putri Reno Gelang. Kecemburuan ini terutama karena membanding-bandingkan dirinya dengan Gadis Ranti. Sebab jika dibandingkan, memang Putri Reno Gelang ketinggalan jauh dari Gadis Ranti.

minangisme-long-banner
Skip to toolbar