Artikel Carito Urang Gaek

Gadih Ranti Primadona Nagari Bonjol Part 2

gadih-ranti-koto-kaciak-bonjol

Pada cerita yang lalu, Gadih Ranti mendapat kecemburuan dari Putri Reno Gelang karena orang-orang suka membandingkan diri mereka. Pada suatu pagi, ketika hendak  pergi ke pancuran, Putri Reno Gelang singgah di rumah Gadih Ranti (Pasaman). Setelah beradu mulut, Putri Reno Gelang hendak memukulkan tabung bambu yang dibawanya kepada Gadih Ranti. Gadih Ranti dengan cepat menangkap tabung bambu itu lalu ditancapkannya ke atas tanah. Putri Reno Gelang mencoba untuk mencabutnya tapi tidak bisa. Melihat kesaktian Gadih Ranti itu, Putri Reno Gelang mundur dan berakhirlah perselisihan itu disana. Tabung bambu itu tumbuh menjadi aur yang tidak beruas. Hingga kini masih ada yaitu persis di tepi sungai Fatimah di ngeri Ranah.

Waktu terus berjalan, Gadih Ranti semakin cemerlang di mata msyarakat Pasaman. Di Kampung Dalam di daerah Ganggo Hilir, tinggallah Datuk Bandaro. Ia adalah raja di sana. Telah sering mengadakan gelanggang, telah banyak pinangan datang namun sampai saat ini masih belum dapat akan jodoh.

Kini untuk kali kesekiannya dipancang pula gelanggang. Semakin banyak anak-anak raja serta putri-putri yang datang. Ibu Rubiah pun datang ke sana. Ia disuruh Gadih Ranti dengan membawa sepasang pakaian yang paling indah; pakaian raja-raja dan putri-putri yang Gadih Ranti gunting dan sulam sendiri.

 

Di tengah-tengah keramaian gelanggang, Ibu Rubiah menggantungkan pakaian ini di depan sebuah kedai. Orang tercengang melihat pakaian ini. Berita ini sampai pula kepada Datuk Bandaro. Datuk Bandaro pergi untuk melihat sendiri pakaian tersebut.

“Siapakah gerangan yang membuat pakaian ini, Bu?”

Menjawab Ibu Rubiah, “Ini dibuat oleh cucuku. Kami tinggal di Padang Ganting.” Sejak saat itu lekatlah hati Datuk Bandaro, Berkata ia dalam hati, ” kalau demikian bagus kerjanya, tentu orangnya pun bagus pula.”

Maka diutuslah kemenakannya bersama seorang hulubalang ke rumah Ibu Rubiah. Mereka bertemu dengan Gadih Ranti. Pertemuan mereka dengan Gadih Ranti membuat mereka terkejut dan berkata dalam hati, “ooh inilah kiranya Gadih Ranti yang banyak disebut orang itu.”

KemenakGadih Ranti Primadona Nagari Bonjolan Datuk Bandaro menyampaikan tujuan kedatangannya yaitu hendak meminang Gadih Ranti untuk pamannya, Datuk Bandaro. Tuhan menakdirkan nasib mereka. Gadih Ranti pun menyetujui maksud Datuk Bandaro. Hanya ada satu masalah, semua hulubalang di Padang Ganting telah memagar negeri itu dengan arti bahwa tidak akan diizinkan orang luar  untuk mempersunting Gadih Ranti. Gadih Ranti harus mencari jalan yang tidak mudah jika hendak kawin dengan Datuk Bandaro.

Demikianlah pada suatu malam, Gadih Ranti berhasil menghilang dari Padang Ganting. Ia pergi lari bersama kemenakan Datuk bandaro ke Kampung Dalam. Paginya orang telah heboh atas kehilangan Gadih Ranti dan tidak sedikitpun terbetik ke mana perginya.

Di Kampung Dalah telah dipersiapkan perkawinan Datuk Bandaro dengan Gadih Ranti. Saat perhelatan kawin dilangsungkan, barulah orang Pasaman tahu bagaimana sesungguhnya Gadih Ranti. Tapi orang tidak bisa berbuat apa-apa sebab mereka kawin dengan sah dan memang inilah pilihan Gadih Ranti sendiri. Sejak saat itu tinggallah Gadih Ranti di Kampung Dalam.

Di Kampung Dalam, Datuk bandaro adalah kepala suku maka rumah tempat mereka, Datuk Bandaro dan Gadih Ranti tinggal, adalah rumah keluar pihak ibu Datuk Bandaro. Gadih Ranti harus tinggal di rumah mertuanya bersama dengan ibu mertua dan kakak adik iparnya. Datuk bandaro sebagai pemimpin nagari sering tidak di rumah, berarti Gadih Ranti sering tinggal hanya dengan mertua serta kakak dan adik iparnya.

 

 

Baca juga : Gadis Ranti Primadona Nagari Bonjol Part 1

 

 

 

Sebab lama-lama bergaul terjadilah persinggungan-persinggungan dan persinggungan ini meningkat menjadi perselisihan. Terjadi perselisihan yang agak mendalam antara Gadih Ranti dan Putri Pinang Masak, adik wanita Datuk Bandaro.

Gadih Ranti tidak tahan dengan keadaan demikian. Lama ia memikirkan mau berbuat apa. Dalam memikirkan kepedihan-kepedihan itu, akhirnya ia sadar; memang telah banyak yang ia ajarkan dan sumbangkan untuk kehidupan terutama wanita-wanita di Pasaman namun ia sadar pula bahwa banyak yang harus ia pelajari dari pengalamannya.

Untuk keluar dari kesulitan itu, ia putuskan untuk meninggalkan Kampung Dalam. Demikianlah ia kembali menghilang bersama dayang-dayangnya dulu. Ia turut kembali ke jalan yang ia lalui waktu datang; dari Kampung Dalam ke Bonjol, Koto Tinggi, Suliki, Siamang Babunyi, Bukit Suayan lalu masuk kembali ke kampungnya Tilatang.

Kini ia kembali berada di tengah sanak famili bersama suka duka yang ia bawa dari Pasaman.

Di Kampung Dalam, Datuk Bandaro telah dihebohkan dengan kehilangan Gadih Ranti. Dikerahkan segala hulubalang mencari kemana yang mungkin. Setengah pergi ke rumah Ibu Rubiah di Kampung Ranah tapi tidak dijumpai. Sebagian lagi mencari terus ke Tilatang dan memang Gadih Ranti telah berada di sana.

Hulubalang ini meminta agar Gadih Ranti kembali ke kampung dalam kepada Suaminya, Datuk bandaro. Gadih Ranti apalagi sanak familinya, menolak. Tampak Gadih Ranti telah memutuskan untuk berpisah saja dengan Daruk Bandaro; bagaimanapun kerasnya hulubalang itu hendak membawa. Ditambah pula, nagari Tilatang telah dipagar oleh hulubalang agar Gadih Ranti tidak pergi lagi; mereka tidak mau kehilangan dua kali.

gadih-ranti

Hanya ketika utusan Datuk Bandaro meninggalkan Tilatang, Gadih Ranti berkata kepada orang banyak,” jangan sekali-kali kita wanita ini tinggal bersama mertua dan saudara perempuan suami, seandainya kita tidak suka rumah tangga berantakan.”

Begitulah dunsanak cerita pertama dari Kami yang disadur dari buku Cerita Rakyat Daerah Sumatera Barat. Apa sanak setuju jika perempuan tidak boleh tinggal di rumah mertua bersama dengan saudara perempuan suami? sialahkan tulis tanggapan sanak di kolom komentar di bawah ya.

 

minangisme-long-banner
Skip to toolbar