Adat Artikel

Filosofi Silat Kumango

silat

Pada artikel Sejarah Silat Kuamango, pembaca sudah mengetahui Syekh Abdurahman Al Khalidi Kumango sebagai penemu dari Silat Kumango di Kampung Kumango, Tanah Datar. Syekh Abdurahman Al Khalidi Kumango juga seorang mursyid Tarekat Samaniyah yang melakukan aktifitasnya di Surau Kumango. Dari kecil sudah keliatan bibit-bibit parewa (preman), namun dapat dikendalikan dengan pengajaran agama dan al quran sehingga sifat parewa beliau disalurkan kepada gerakan silek kumango ini.
Pengajaran Silek Kumango tidak sembarangan, ada filosofi dibaliknya dimulai dari penerimaan murid, pengajaran gerakan dan penyerangan musuh. Pada saat penerimaan murid baru (mangangkat anak sasian), diwajibkan untuk memenuhi syarat-syarat tertentu yang disebut manatiang syaraik (mengangkat syarat/sumpah), yaitu dengan membawa barang-barang tertentu:
1. Lado jo garam (membawa cabai dan garam)
merupakan simbol agar ilmu yang diperoleh akan melebihi pedasnya cabai dan asinnya garam
2. Pisau tumpul
sebagai simbol bahwa murid yang baru datang di ibaratkan sebagai pisau tumpul yang akan di asah di sasaran agar menjadi tajam
3. Kain putiah/kain kafa
simbol kepasrahan kepada Sang Khalik agar selalu siap untuk kembali kepadaNya
4. Jarum panjaik jo banang
simbol efisiensi, hemat dan tidak boros
5. Bareh sacupak
simbol untuk bekal agar mandiri
6. ayam batino
ayam ini biasanya dipelihara di rumah guru dan telurnya di ambil untuk dimakan bersama-sama

Langkah Ampek
Sebagian besar silat Minang dan juga dalam Silat Kumango menganut langkah nan ampek (langkah empat). Pola langkah empat ini pada dasarnya adalah membagi ruang di sekeliling kita menjadi empat bagian, depan, belakang, kiri dan kanan.
Dalam Silek Kumango langkah ampek ini disimbolkan sebagai:

  1.  langkah Alif, Lam, Lam, Ha dan Mim, Ha, Mim, Dal, yang merupakan huruf hijaiyah dalam kalimah Allah dan Muhammad.
  2. Minangkabau mengenal sagalo nan ampek.
    Ampek macam batang aka
    Partamo syariaik
    Kaduo tarikaik
    Katigo hakikaik
    Kaampek makripaik

    Urang nan ampek golongan
    Partamo niniak mamak
    Kaduo cadiak pandai
    Katigo alim ulamo
    Kaampek bundo kanduang

    Adaik nan ampek
    Partamo adaik nan sabana adaik
    Kaduo adaik nan diadaikkan
    Katigo adaik nan taradaik
    Kaampek adaik istiadaik

  3. sifat dari Nabi Muhammad SAW, yaitu Siddiq, Tabligh, Amanah dan Fatonah.
  4. simbol dari nafsu manusia yang terdiri dari nafsu ammarah, lawwamah, sufiyah dan muthmainnah.
  5. empat tingkatan manusia menurut pemahaman minangkabau yaitu : urang, urang nan takka urang, urang nan ka jadi urang, urang nan sabana urang.

silat-kumango

Baca Juga Artikel Terkait : Sejarah Silat Minangkabau Kumango

Langkah Tigo
Selain langkah ampek, dikenal dalam Silat minang juga dikenal filosofi langkah tigo. Bila langkah ampek memiliki muatan agamis, sebaliknya langkah tigo memiliki muatan adat yang menjadi landasan dalam pola pikir masyarakat minangkabau termasuk dalam seni Silatnya.
Adat babarih babalabeh
Baukua jo bajangko
Tungku nan tigo sajarangan

Patamo banamo alua jo patuik
Kaduo banamo anggo tanggo
Katigo banamo raso pareso

Alua jo patuik (alur dan kepatutan/kepantasan) secara singkat adalah logika, anggo tanggo (anggaran tangga) kedisiplinan, raso jo pareso (rasa dan periksa) adalah perasaan/olah rasa dan ketelitian/periksa.Silat itu haruslah bersesuaian dengan ilmu pengetahuan/logika/masuk di akal, dalam mempelajarinya diperlukan kedisiplinan dan terakhir adalah pengolahan rasa untuk mempertajam gerakannya.

Elak Ampek
Dalam Silat Kumango, pengaruh sufistik dari Syekh Abdurahman juga tampak dalam filosofi bahwa setiap serangan haruslah dielakan terlebih dahulu.

  1. Elakan pertama disimbolkan sebagai elakan mande, dalam menghadapi serangan pertama dari seorang musuh, harus di elakan. Dianggap nasihat dari seorang ibu kepada anaknya, jadi tidak boleh dilawan.
  2. Elakan kedua disimbolkan sebagai elakan ayah, jadi harus dipahami dan bukan dilawan.
  3. Elakan ke tiga disimbolkan sebagai elakan guru bahwa itu adalah seorang guru yang sedang marah sehingga wajib dipahami dan tidak dilawan.
  4. Elakan keempat disimbolkan sebagai elakan kawan diartikan bahwa itu adalah seorang kawan yang hendak bermain-main kepada kita sehingga harus kita pahami dan dalam gerakan silat harus kita elakan.
    Baru pada serangan kelimalah seorang pesilat Kumango dapat melakukan gerakan perlawanan karena pada serangan kelima ini diibaratkan si penyerang sudah bersama setan sehingga wajib bagi kita untuk menyadarkannya. Serangan yang dilakukan hendaknya tidak boleh sampai mencederai lawan. Apabila lawan kesakitan, minta maaf adalah hal yang patut dilakukan.

sejarah-silat-kumango

Baca Juga Artikel Terkait : Penyebaran Silat Minangkabau

Alah kanyang ka tambah
Dalam filosofi Silek Kumango disarankan untuk tidak menyerang lawan yang posisinya sudah berada di bawah. Hal ini disimbolkan dengan “alah kanyang ka tambah” sudah kenyang masih mau nambah, maka yang terjadi adalah hilangnya rasa kenyang, yang ada malah rasa sakit perut.
Lawan yang berada di bawah diposisikan sebagai lawan yang sudah jatuh, nah menyerang lawan yang sudah kita jatuhkan bisa mengakibatkan posisi kita malah menjadi lemah, maka sebaiknya di biarkan lawan sampai bisa berdiri kembali.
Sangat banyak filosofi dalam gerakan Silat Kumango ini, dimulai dari penerimaan murid, langkah ampek, langkah tigo, elak ampek dan alah kanyang ka tambah. Demikian disadari dalam pengajaran Silat bukan hanya sekedar bela diri dan seni semata, tapi juga pengajaran nilai-nilai kehidupan agar arif lagi bijaksana.

Baca Juga Artikel Terkait : Penyebaran Silat Minangkabau di Luar Negeri

minangisme-long-banner
Skip to toolbar