Artikel Carito Urang Gaek

Cerita Minangkabau Damang Yusuf

cerita-minangkabau-damang-yusuf

Damang Yusuf – Selama pemerintahan Raja Indra, Belanda tidak bisa berbuat apa-apa. Pernah beberapa kali dicoba menyerang. Namun tidak bisa. Raja Indra ini amat berani dan disegani rakyatnya. Pada waktu anaknya Yusuf berumur delapan belas, Raja Indra meninggal dunia. Tanggung jawab terhadap negeri Indrapura ini sekarang terpikul pada Yusuf.

Yusuf ini tidak pula kalah hebatnya dari mendiang ayahnya. Di tangannya negeri aman, pertanian menjadi, penghulu sesuai saja dengan ulama; mengukur sama panjang dan menimbang sama berat. Ia dikenal orang dengan nama Damang Yusuf.

Belanda yang berdiam di seberang laut, menegetahui kematian Raja Indra yang keras itu. Ia tahu kini pemerintahan terpegang pada Yusuf yang masih remaja itu. Meraka merasakan bahwa ini adalah kesempatan untuk melaksanakan maksud lama, yaitu menaklukkan Indrapura. Mereka mempersiapkan armada yang besar, dan selesainya persiapan itu, mereka mulai bertolak arah Indrapura.
Adapun Yusuf, sebagai seorang yang akan memegang pemerintahan nantinya, ia telah dipersiapkan oleh ayahnya dengan baik. Telah diberi kepandaian lahir dan batin, sebagai pemagar diri, sebab ayahnya sadar bahwa niat Belanda untuk mencelakakan negerinya pastilah tidak akan putus-putusnya. Tambahan lagi, Yusuf ahli dalam firasat.

Demikianlah, baru saja perahu-perahu Belanda mengambang di tengah laut hendak menuju Indrapura, kepadanya sudah datang tandanya bahaya akan datang. Yusuf pun segera bersiap-siap bersama anak negerinya.
Pada subuh-subuh buta, tampaklah perahu Belanda sebanyak tiga puluh buah penuh berisi tentara. Mereka seperti menutup Teluk Pasir Ganting, pelabuhannya negeri Indarpura. Melihat jumlah yang sekian banyak, terasalah kecut dalah hati Yusuf, apalagi pengikut-pengikutnya. Tambahan pula, Belanda datang dengan bedil dan meriam, sedangkan mereka menuggu dengan pisau, kelewang dan bambu runcing. Namun, Yusuf beserta rakyatnya telah bertekad untuk bertahan dengan sekuat tenaga. Perang sudah tidak sebanding.

damang-yusuf
Oleh karena itu, Yusuf harus berusaha dengan cara lain. Sementara Belanda siap-siap naik ke darat, Yusuf pergi ke perapian, dibakarnya kemenyan putih, lalu berseru pada arwah bapaknya. “Bapakku Raja Indra, negeri dalam bahaya, musuh datang sangat banyak, kini berilah akau kekuatan sakti bapak”, ia picingkan matanya, ia tadahkan matanya. Adapaun bapaknya Raja Indra mati hanya badannnya, sendangkan arwahnya tetap berkeliaran. Mendengar seruan anaknya ini, masuklah ruh Raja Indra kepada tubuh Yusuf. Sehingga di dalam kemasukan arwah ini, ia menjadi bisa bersembunyi pada sehelai daun lalang; sebentar-sebentar ia menjadi harimau, sebentar menjadi kera, atau buaya, atau ular, yaitu binatang apa saja yang dikehendakinya.

BACA JUGA : Cerita Minangkabau Ampu Beroyo dan Abdul

Belanda telah naik ke darat, dan perang pun mulai. Rakyat Yusuf telah berperang dengan apa yang mereka bisa; Yusuf telah berperang di dalam bentuk binatang-binatang yang dikira sangat menguntungkan. Peperangan menjadi berimbang. Namun akhirnya, Belanda sangat kaget sebab tanpa diketahui secara pasti, mayat-mayat mereka sudah bergelimpangan; pekikan-pekikan sedih tidak hentinya-hentinya kedengaran, sedangkan lawan tidak banyak yang tampak.

Pada pihak Yusuf, memang banyak juga jatuh korban sedangkan sebagian besar dari rakyat lari bersembunyi ke bukit-bukit.
Oleh pihak Belanda, melihat telah terlalu banyak korban jatuh mereka pun memutuskan mundur. Tentara-tentara yang masih hidup, segera surut ke tengah laut. Letusan pun tidak terdengar lagi.
Yusuf beserta anak buahnya, mulai mengubur mana yang mati dan meyelamatkan mana yang sakit. Sedangkan mereka yang lari ke atas bukit, telah mulai kembali ke tempat mereka masing-masing. Hari pun malam.

Di dalam menghitung-hitung rugi laba, di dalam beristirahat oleh karean letih, pada malam-malam buta itu tanpa diketahui siapa pun, Belanda kembali masuk dengan kekuatan tambahan. Rupanya sebagain lagi kekuatan tersisa di tengah laut. Maka oleh kepungan yang tiba-tiba itu, Yusuf beserta kekuatan lainnya tidak sempat lari atau pun melawan. Yusuf tertangkap, dan dimasukkan ke dalam penjara. Sedangkan mulai saat itu, Belanda pun duduk di Indrapura.  Minangisme cerita Damang Yusuf

Di penjara, sebetulnya bagi Yusuf tidak ada masalah. Di dalam keadaan kemasukan arwah ayahnya, nyawanya itu bisa berkeliaran kemana-mana, sementara tubuh kasarnya terkurung dalam kamar sempit.

Dan selama dalam penjara itu, Yusuf tak tinggal diam. Nyawanya berkeliaran memeriksa segala-galanya, cara-cara hidup si Belanda, pertahanannya serta kekuatannya. Lalu diberi tahu kepada pemimpin-pemimpin rakyat yang masih bebas di luaran.
Demikianlah, baru beberapa hari Yusuf dalam tahanan, arwahnya memberi tahu ke luar tentang satu kelemahan Belanda, yaitu, bahwa ia tidaklah bisa menampak malam hari, karena biji matanya yang putih itu; di malam hari mereka tidur berkaparan, sehingga tinggal menangkapi saja lagi. Kemudian, Yusuf menyuruh kekuatan rakyat di luar itu menyerang Belanda terus menerus, dengan mempergunakan kelemahannya itu; yaitu bergerilya terus menerus pada maalm hari. Ia sendiri, Yusuf, akan tetap berada di dalam tangsi Belanda, walaupun sebetulnya dengan ilmu yang ia miliki, ia bisa saja melarikan diri, negeri ini akan dihancurkan oleh Belanda.
Maka mulailah rakyat bergerilya malaam hari. Arwah Yusuf pun ikut berperang. Akibatnya memang banyak Bleanda yang jadi korban dari malam ke malam. Belanda menjadi panik.

BACA JUGA : Abih Dayo Badan Latak, Tibo Paham

Akibat kepanikan itu, Belanda memutuskan unutk berbuat nekad. Dibuatnya sebuah lobang panjang melingkar halaman pos pertahanan mereka. Di atasnya atap dengan buluh-buluh, lalu ditutup dengan tanah dan rumputan, sehingga tidak kentara. Di dalamnya dituangkan bensin.

Pada hari yang telah ditentukan, dikumpulkannya segala penghulu-penghulu dan pemimpin masyarakat di halaman pos mereka itu. Pemimpin-pemimpin rakyat ini berdiri berkumpul menghadap kepada pos itu, dalam keadaan serta terkurung di dalam lingkaran lobang yang telah disiapkan itu.

minangisme-long-banner
Skip to toolbar