Artikel Carito Urang Gaek

Cerita Minangkabau Ampu Beroyo dan Abdul

ampu-beroyo-dan-abdul

Ampu Beroyo dan abdul – Raja Muda pun memanggil hulubalang yang empat orang. Hulubalang tersebut menghadap, lalu bertanya , “Tuanku Raja kami, adalah parit terbang rumah gadang ketirisan atau janda dapat malu, makanya kami tuanku panggil”. Raja menjawab, “Sebabnya kupanggil, adalah mengabarkan bahwa anak kita Siti Fatimah sudah besar, sudah patut dicarikan junjungannya. Bunyikanlah tabuh larangan, beritahu seluruh rakyat, bahwa kita akan memancang gelanggang untuk mencarikan jodohnya”. Hulubalang itu pun melaksanakan suruhan Raja itu. Untuk rakyat dalam negeri dibunyikan tabuh dan untuk jauh sudah dilayangkan surat undangan.

Adalah seseorang yang bernama Ampu Beroyo.
Di dalam kampungnya, tidak ada orang yang tidak kenal dengan dia. Ia betul-betul parewa, memakan masak mentah. Kalau lunak disudunya, kalau keras dikiknya. Terbujur lalu terbelintang patah.

Kepada Ampu Beroyo pun telah terdengar pula bahwa Raja Muda akan memancang gelanggang. Pucuk dicinta ulam tiba. Selama ini, tidak ada gelanggang yang tidak ditempuhnya. Ia mencari kehidupan di gelanggang, tidurnya di surau, makannya di lapau. Lalu mendengar bahwa Raja Muda akan memancang gelanggang, tersentaklah hatinya untuk pergi. Tanpa pikir panjang, iapun berangkat.

BACA JUGA : Abu Nawir Si Perantau Indrapura

Diansurnya berjalan sendirian. Dalam berjalan itu ia terus berpikir. Diputuskannya untuk membawa teman-temannya. Setelah sehari penuh dalam perjalanan, sampailah ia di rumah temannya, yang bernama si Maling. “Hai, sudah lama tidak berjumpa, mau kemana?”, kata si Maling.
“Adakah mendengar Raja Muda memancang gelanggang?”, kata Ampu Beroyo sambil bersalaman. “Aku tidak mendengarnya”, jawab si Maling. “Mari kita pergi”, kata Ampu Beroyo lagi. Dan setelah bersiap, keduanya pun berangkat.

Mereka mencari teman-teman lain. Teman-teman itu adalaj si Sumpit, si Tenung dan si Penyelam. Makanya, bernama si Maling karena ia bisa mengambil/mencuri apapun walau dari jauh. Si Sumpit, keahliannya bisa menyumpit burung yang terbang di angkasa, walaupun telah tidak kelihatan lagi. Sedangkan si Penyelam, jangankan sejam dua, tiga hari pun ia bisa menyelam tanpa muncul-muncul. Sesungguhnya, bukan mereka yang berbuat adalah makhluk halus kepunyaan masing-masing.

Kelimanya pun menghiliri jalan yang panjang. Setelah lama dalam perjalanan, sampailah mereka di gelanggang Raja Muda. Alangkah ramai orang di sana. Semuanya asyik dengan judi masing-masing: menyabung bertuhuk dan lain-lain. Kelima anggota Ampu Beroyo ini pun segera terlibat dengan keasyikan masing-masing.

Tibalah hari yang ditentukan. Undian akan dilakukan. Semua orang telah pula siap di tempat yang ditentukan. Lalu, Raja Muda, anak gadisnya Fatimah serta Mantri dan Hulubalang, tampil dihadapan orang ramai. “Kini anak kita melakukan undian. Akan diterbangkan seekor kumbang hitam dan sebagaimana adatnya, siapa yang dihinggapi kumbang tersebut, dialah yang akan jadi jodoh Fatimah”. Orang pada diam sambil menunggu dengan harap-harap cemas. Kumbang pun dilepas.
Kumbang melayang di udara. Hilir mudik melintas di atas kepala setiap orang yang hadir. Setelah lama melayang, hinggaplah ia di atas kepaal seseorang. Seluruh hadirin menengok pada orang itu. Semua kaget melihat bahwa yang dihinggapi itu adalah seorang miskin. Tapi apa boleh buat, orang tidak boleh berobah dari itu, karena demikian adatnya melakukan undian.

BACA JUGA : Gadih Ranti Primadona Nagari Bonjo

Orang itu dipanggil mendekat Raja. Semua orang mencemooh. Raja berkata kepadanya, “Memang kumbang telah hinggap padamu, tapi apakah engkau sanggup menjadi menantu  Raja”. “Tujuan saya kemari hanyalah unutk meramaikan gelanggang Tuanku. Tapi karena begini jadinya, maka aku pun menyanggupinya. Sebab, lahirnya kumbang yang berbuat, batinnya adalah kehendak Tuhan demikian”. Maka dijanjikanlah bahwa perhelatan kawin akan dilakukan sebulan mendatang.

Besok paginya, gelanggang pun usai. Orang telah pulang ke rumah masing-masing. Pada hari itu pula orang menjadi heboh. Siti Fatimah telah lenyap dari istana. Payah mencarinya kalau-kalau masih ada di sekitar, tapi tak berjumpa. Raja pun menjadi putus asa. Telah berkumpu segala tukang tenung dan tukang sihir, namun tak seorang pun yang berhasil menunjukkan di mana Fatimah berada. Lalu, Raja memberitahukan pada orang banyak bahwa siapa yang dapat menemukannya, akan diberi imbalan yang tak terhingga banyaknya.

Ampu Beroyo beserta teman-temannya masih berada di sana, yaitu sedang siap-siap hendak berangkat pulang. Mereka sangat tertarik dengan imbalan yang dianikan Raja itu. Diputuskan mereka untuk mencoba-coba.

Kelimanya pergi menghadap Raja. Dihujamkan lutut yang dua, lalu berkata, “ Tuanku Raja kami, mengenai anak tuanku yang hilang itu, kami akan coba mendapatkannya. Tapi kalau tidak berhasil, jangan kami diberi beban”. Raja setuju, mereka pun turun.

Mereka pergi meyisih dari orang ramai. Yang ambil bagian pertama adalah si Tenung. Dibacanya jampi-jampi, dipicingkannya matanya lalu meminta kepada yang Satu minta ditunjukannya dimana Fatimah berada. Teman-teman menunggu dnegan harap cemas. Kemudian, “Marilah”, katanya kepada teman-teman.
“Siti Fatimah sekarang sedang berada di istana Raja Ali di seberang laut. Di waktu duduk di atas anjungan peranginan tengah malam tadi, datang burung Burak Raja Ali. Fatimah diambilnya lalu digonggongnya ke seberang laut”. Mendengar keterangan itu Ampu Beroyo berlari kehadapan Raja, “Dalam penglihatan kami, Fatimah  sekarang sedang berada di istana Raja Ali di seberang laut. Kalau tuanku dapat meminjami kami kapal, kami akan coba mencari kesana”.  “Apa saja keperluan kan kusediakan”, jawab Raja.

Silat minang

 

Di istana Raja Ali, Fatimah ditempatkan di atas anjung peranginan. Ia selalu berada dihadapan Raja Ali. “Makanya Fatimah kuambil, karena saya tidak berhasil di gelanggang dulu saya telah bersusah payah datang ke sana, tapi orang lain yang ditakdirkan mendapatkannnya. Sejak itu aku telah memutuskan, kalau tidak lalu dandang di air, di gurun ditanyakan. Tidak adalah maksudku selain hendak meangawinimu secara baik-baik. Janganlah engkau marah dalam hal ini, karena saya telah melakukan apa yang disuruh dalam mimpiku”.
Termenung Fatimah mendengar keterangan itu. Pandangannya jauh ke seberang laut, kepada kedua orang tuanya yang telah panik, sedangkan air matanya selalu jatuh berderai. Sebaliknya iapun merasa pada waktu itu tidak ada lagi jalan lain, sebab kita dalam kekuasaan orang. Dibulatkannya hatinya, “Tuanku kandung Raja Ali, kalau demikian niat tuan, tidak dapat aku menolaknya. Tapi satu permintaanku, kalau jadi tua kawin dengan saya, janganlah saya di sia-siakan.  Maklumlah ;
Berparak ke para orang
    Tidak  dapat bertanam padi
    Bemamak ke mamak orang
    Tidak dapat ber-kehendak hati.
Maka senanglah hati Raja Ali.

Bersambung…

minangisme-long-banner

About the author

Profile photo of admin

admin

Add Comment

Click here to post a comment

Skip to toolbar