Artikel Carito Urang Gaek

Cerita Minangkabau Ampu Beroyo dan Abdul part 3

ampu beroyo dan abdul part 3
ampu beroyo dan abdul part 3

Ampu beroyo dan abdul – Hari pun malam. Abdul siap dengan sebuah gunting. Pada waktu itu jam menunuukan dua belas tengah malam. Orang yang tertidur karena letihnya. Demikian pula Fatimah. Yang masih bangun hanyalah Abdul. Dengan diam-diam, ia merangkak ke kamar Fatimah, yang sedang terkapai dalam kelambu indah. Dan tepat jam dua belas malam memang menjalar lipan yang sangat besar. Abdul dengan tangkas menegeluarkan gunting dari dalam saku , lalu memotong kepala yang berbisa. Lipan itu mati, lantas disimpannya di dalam kantong bajunya. Iapun keluar dengan gembira karena telah menyelamatkan nyawa si Fatimah. Tapi malang tidak dapt ditolak. Abdul tersenggol pintu kamar, sehingga beberapa orang terbangun. Dilaporkan orang pada Raja secara diam-diam, kemudian orang bungkem, maklum si Abdul teman si Ramli.

Hari pun siang. Tamu telah mulai banyak yang datang. Makanan dan minuman telah siap di dapur. Abdul pergi ke dapur. Segala makanan yang telah siap itu seperti tidak sengaja dijungkir balikanya. Tamu-tamu jadinya tidak bisa makan. Kemudian, kereta pun disiapkan untuk Fatimah mengunjungi rumah mertuanya. Abdul cepat-cepat pergi ke dalam kandang lalu dirusaknya sepatu kuda yang ada. Raja sudah tidak tahan lagi amarahnya. Kemudian hulubalang diperintahkan mencarinya dan dihadapkan kepada Raja. Dengan langkah yang pasti menuju ke tempat raja yang pada waktu itu tengah tegak di halaman muka, dikelilingi orang banyak. Orang hendak melihat hukuman apa yang dijatuhkan raja padanya. Raja langsung berkata dengan muka marah, “Sejak perhelatan dimulai, telah bermacam-macam saja perbuatan memalukan yang kau lakukan. Kau memasuki kamar penganten. Kau tunggakan segala makanan. Dan kau bunuh segala kuda-kuda. Atau adakah maksudmu hendak mengawini si Fatimah. Sabarku habis. Bagiku anak ya anak, tapi kesalahan tetap kesalahan. Kau akan kuhukum pancung dihadapan orang ramai ini”. Mendengar akan dipancung, badannya menggigil, serasa tidak lagi berdiri di atas bumi. Ia berpikir sebentar mau pilih yang mana. Dipancung, atau menjadi batu karena diceriterakan yang sesungguhnya. Keduanya sama-sama mati.

BACA JUGA : BUJANG KIRAI MINANGKABAU

CERITA MINANGKABAU AMPU BEROYO DAN ABDUL
CERITA MINANGKABAU AMPU BEROYO DAN ABDUL

Kemudian Abdul angkat bicara “Beri ampun aku Tuanku, niat aku jelaskan duduk persoalannya. Dulu waktu menemani Fatimah di atas kapal, sedang Fatimah dan Ramli tertidur nyenyak, aku mendengar suara dari atas bubungan kapal, barangkali arwah burung burak; yang mengatakan bahwa “ia akan ladi lipan di dalam malam penganten, akan jadi racun di tengah helat ramai, akan jadi kuda waktu Fatimah berbendi ke rumah mertua. Semuanya  supaya Fatimah dan semua orang mati”. Baru saja kata habis, si Abdul laksana kena pasung bumi, berdiri kaku kemudian menjadi batu. Orang ramai berpekikan apalagi orang tuanya. Telah seperti orang gila semuanya.

Entah apa gerak yang datang, dalam keadaan setengah sadar, si Ramli berlari panjang tidak tahu mau ke mana. Kiranya ia mengarah ke rimba lebat. Ia berlari terus sampai pada suatu saat menjadi letih sehingga terkapai di bawah sepohon kayu besar. Kemudian ia beringsut ke belakang lalu bersandar. Ia bersandar dengan terengah-engah sedangkan matanya setengah terbuka, dan ia pun masih seperti setengah sadar. Lama dalam keadaan demikian barulah ia sadar bahwa ada cekungan tanah seperti dua kolam, dan genangan air yang ditumbuhi rerumputan yang sangat jorok kelihatannya.

Matanya nanar melihat kedua kolam itu. Dalam nanar itu, dari depannya tampaklah seekor katak melompat-lompat mendekatinya. Kemudian meloncat ke dalam sumur yang satu. Di sana ia berobah menjadi batu. Ramli terkejut dan langsung bangkit. Didekatinya tempat itu. Memang cukup banyak batu besar kecil berada dalam kolam itu. Dalam keheranan, diambilnya dua buah batu; satu batu yang berasal dari katak tadi,  satu lagi yang lebih besar. Lalu keduanya dilompatkan ke dalam kolam yang di sebelah. Lebih heran lagi, tiba di sumur sebelah batu itu kembali jadi katak, sedang yang satu lagi menjadi rusa. Katak dan rusa itu langsung melompat , dan hilang masuk rimba.

Dalam keheranan tersebut, Ramli mendengar semacam suara dengusan. Ia membalik ke belakang, dan di atas batang kayu besar, berupa orang yang sangat menakutkan parasnya. Ia kaget dan bergerak hendak lari. Kebetulan di sebelahnya berdiri, terletak sebuah batok kelapa bekas dimakan tupai, yang berlubang dan kosong. Diambilnya batok itu direndamkannya ke dalam air kolam yang satu, kemudian dibawanya lari. Kini ia lari menuju rumahnya dengan menjinijng batok kelapa yang berisi air sumur tadi . ia sampai di halaman rumahnya setelah lama sekali dalam perjalanan dan tidak sadar bahwa kulitnya telah robek-robek oleh duri dalam pelariannya.

Dilihatnya dihalaman rumah sudah sunyi, rumput sudah panjang. Kenapa tidak telah sekian lama ia meningalkan rumahnya. Sedangkan batu yang berasal dari temannya Abdul dulu masih tertegak. Maka segera, disiramnya batu tersebut dengan air, dalam batok kelapa yang ia bawa itu. Air kering, dan serta merta, batu itu telah berobah kembali menjadi si Abdul.

Dipleuknya temannya itu, “Rupanya masih akan berjumpa juga kita”, katanya sambil menangis terisak-isak. Menjawab si Abdul, “Enak benar tidurku, kenapa kau bangunkan. Manakah tamu-tamu kita yang banyak itu”. “Tamu juga yang kau tanyakan, telah sebulan gelanggang usai, telah selama itu pula engkau jadi batu”. “Kalau demikian, marilah kita temui ibu dan bapak”, kata Abdul. Mereka pun berangkat ke atas anjung.

Di atas rumah dilihatnya Raja Muda sedang terbaring karena sakit. Melihat Ramli dan Abdul muncul di hadapannnya, digosok-gosoknya matanya, “Apakah aku bermimpi”. Ayah tidak bermimpi, kami sudah pulang. Ini si Abdul”. Raja Muda memaksakan dirinya bangkit lalu dipagutnya kedua anaknya itu, “Abdul, semenjak dari ujung rambut sampai ujung kaki, aku minta maaf kepadamu”. Meawab si Abdul, “Tuanku , manusia tak akan luput  dari kesalahan. Sekarang marilah kita lupakan segala yang lalu, kita pikirkan masa datang. Satu usulku, yaitu marilah kita berdua sedikit, kita panggil segala orang yang ikut berjasa terhadap kita”.  “Baiklah kita kerjakan secepaatnya jawab si Raja Muda, kemudian dalam bertangisan itu masuk pula Fatimah dengan suaminya, masuk pula segala Mantri dengan Hulubalang. Semuanya bertangisan karena sedih dan kegembiraan.

BACA JUGA : GADIH RANTI PRIMADONA NAGARI BONJOL

Si Abdul pergi mengunjungi, orang tuanya. Tiba di rumah, dilihatnya kedua orang tuanya telah agak kurang normal. Kenapa tidak, si Abdul adalah anak satu-satunya. Lalu melihat anak pulang, mulanya mereka tidak bisa percaya kemudian setelah diyakininya, kembalilah pikirannya yang normal, “Betulkah engkau Abdul anakku”. “Betul, aku telah kembali”. Mereka pun berpelukan, melepaskan kesedihan selama ini.

Dalam pada itu, hulubalang yang empat orang membunyikan tabuh larangan. Semua penduduk berkumpul. Di sana disampaikan oleh Raja Muda bahwa kedua anaknya telah kembali. Akhirnya Raja berkata, “Pada lahirnya aku yang jadi raja, tapi pada batinnya adalah si Abdul. Maka mulai saat ini, bagia kerajaan yang sebelah hilir kuserahkan kepada si Abdul. Dialah yang akan menjadi raja di sana. “Mendengar itu riuh tepukan orang banyak. Karena, kalau tidak si Abdul, setiap pengunjung perhelatan akan meninggal karena racun. Termasuk si Fatimah.

Maka diadakanlah perhelatan tujuh hari tujuh malam, memperingati peresmian si Abdul jadi raja. Dalam helat itu diundang orang-orang yang telah berjasa, sehingga kelihatan pula Ampu Beroyo bersama empat temannya, duduk mengelilingi si Abdul. Orang berbesar hati semuanya.

minangisme-long-banner
Skip to toolbar