Artikel Carito Urang Gaek

Cerita Minangkabau Ampu Beroyo dan Abdul 2

cerita-minang-ampu-beroyo-abdul

 

Ampu beroyo Telah dua bulan pula berlalu. Dalam masa demikian hanya badannya yang bersinggungan, sedangkan hatinya masih belum.  Adapun di tempat Raja Muda, setelah diberikan sebuah pencalang serta bekal seperlunya, berlayarlah Ampu Beroyo dengan empat teman akrabnya itu. Setelah kira-kira sebulan di lautan, sampailah mereka ke pelabuhan Raja Ali. Daerah tersebut amat ramai ,sampai-sampai dari negeri asing orang berdagang ke sana.

Kira-kira jam satu malam, kapal Ampu Beroyo merapat di pelabuhan. Si  Maling turun ke darat, sedangkan teman lain tinggal di atas kapal.  Si Maling langsung menuju ke istana Raja. Ilmunya demikian tingginya, sehingga di balik lalang sehelai pun ia bisa hilang. Maka walaupun penjaga berlapis-lapis, walaupun pintu terkunci ia dapat masuk ke kamar Fatimah di anjung peranginan. Fatimah yang sedang tidur nyenyak disandangnya, lalu dibawa ke atas kapal. Pencalang pun segera dilayarkan.

Setelah hari menjadi pagi, Raja Ali heboh kehilangan Fatimah. Segala Hulubalang heboh mencari dimana-mana, tapi tak bertemu. Kemudian tukang tenung. Dari hasil tenunganan itu melapor ia pada Raja, “Kita sudah tidak punya harapan lagi. Ia telah dijemput oleh yang punya. Sekarang ia sedang dalam kapal di tengah lautan”.  Termenung Raja memikirkannya. Kemudian dipanggilnya burung buraknya. “Fatimah yang engkau ambil dulu telah diambil lagi. Coba kau ambil lagi sekarang ia sedang berada di atas kapal di tengah lautan”. Maka burung burak segera melayang ke tengah lautan. Tampak sebuah kapal, lalu ia menukik. Pada masa itu Fatimah sedang merenungi lautan lepas, membayangkan bagaimana gembiranya nanti berjumpa dengan kedua orang tua. Dalam termenung itu, tanpa diketahuinya burung burak sudah berada di atas kepala. Disambar, kemudian digonggong dibawa terbang.

BACA JUGA : 4 CARA GADAI HARTA PUSAKA TINGGI

ampu-beroyo-dan-abdul

 

 

Ampu Beroyo yang sedang terlena letih, tiba-tiba tersentak melihat Fatimah sudah tidak ada lagi. Dibuang pandangan jauh-jauh; tampak burung burak menggonggong Fatimah yang telah sayup-sayup terbang di udara. Dibangunkan teman-temannya. Lalu berkerumun  memandang arah Ampu Beroyo menunjuk. “Kini giliranmu Sumpit”, kata Ampu Beroyo. Tanpa pikir panjang, diambil sumpitan, ditiupnya. Peluru melayang ke udara. Burung burak kena, berguling mencebur ke lautan. Si Penyelam langsung terjun ke lautan; dicari hilir dengan mudik, dan Fatimah berhasil disambarnya. Ia diangkat ke atas kapal, sedangkan burung burak mati terbenam di dasar laut.

Adapun Fatimah, karena terbenam di lautan, perutnya gembung terisi air. Ia tidak bergerak, tapi masih panas. Maka ditungingkan oleh Ampu Beroyo. Air keluar dari dalam perutnya. Kemudian ambil lidi tujuh helai, yaitu lidi yang diperolehnya dari  orang halus dulu dilecutkannya pada Fatimah, sampai tiga kali, terbukalah mata Fatimah, dan setelah itu ia kembali sadar seperti biasa.

Pelayaran pun diteruskan juga. Telah hampir sebulan pula di lautan merekapun sampai ke tempat yang dituju, kampung halaman sendiri. Dibunyikan bedil tiga kali. Orang ramai berlarian ke pelabuhan apalagi Raja Muda. Ampu Beroyo pun turun beserta empat orang temannya. “Permintaan kita mudah-mudahan dikabulkan Tuhan, lihatlah ke dalam kapal. Tapi menurut tenungan kami, semalam-malaman ini Fatimah harus berada di atas kapal besok baru ia meninggalkan kapal”, Maka berlarilah Raja Muda hendak menemui anak gadisnya. Begitu juga orang yang banyak.

Setelah sore, orang pun pulang ke rumah masing-masing. Semalam-malaman itu, Fatimah masih berada di atas kapal ditemani oleh kakak kandungnya bernama Ramli; dan Abdul, kawan erat si Ramli. Mereka berkawan sejak kecil, dan demikian akrabnya, sehingga dimana si Ramli berada si Abdul pun ada di sana.

Pada malam itu kedua mereka berjanji tidak akan tidur, sebab menurut Ampu Beroyo, marabaya masih belum habis. Mereka berusaha melaksanakan janji itu.

BACA JUGA : CERITA MINANGKABAU AMPU BEROYO DAN ABDUL

Hari pun semakin larut. Mungkin karena sangat letih, Ramli tiba-tiba tertidur. Fatimah pun telah lama tertidur nyenyak. Hanya Abdul yang masih berjaga-jaga. Kira-kira jam tiga pagi, terdengar serentetan bunyi guruh yang sangat panjang. Kemudian bertiup angin yang cukup keras. Diujung desauan angin itu, terdengarlah seperti suara orang. Abdul melihat ke bubungan kapal. Tampak seekor burung mengisai-ngisai bulu. Dipusatkan Abdul telinganya ke sana, memang terdengar bunyi suara itu, “Hanya tubuh yang tenggelam di dasar laut, nyata tetap masih ada. Sebelum hutang dibayar darah, usaha belum akan kuhentikan. Pada malam Penganten, aku akan jadi lipan; pada acara kendurinya aku akan jadi racun dalam makanan.; dan aku kan jadi kuda kalau ia berkereta ke rumah mertua. Siapa yang menyampaikan ini pada orang lain, ia akan langsung jadi batu”. Suara habis, angin tenang dan burung pun terbang. Hendak dbangunkannya si Ramli ia takut kalau-kalau benar yang dikatakan suara itu bahwa ia akan jadi batu. Akhirnya diputuskan untuk bungkem.

cerita-minangkabau

 

Hari pun pagi. Fatimah dan Abdul pun turun, unutk kemudian menuju istana. Fatimah dan Ramli amat cerah maklumlah lama berpisah dengan penderitaan. Tapi Abdul hatinya gunda, kalau-kalau memang kejadian seperti bunyi suara yang didengarnya. Semua serba sulit.

Kini Fatimah telah berada di tengah keluarga dengan selamat. Orang tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dirinya dengan  Raja Ali. Yang pasti, ia telah bertunangan dengan seseorang. Maka supaya jangan lagi terjadi kemungkinan yang buruk, akan dilangsungkan perkawinan secepatnya. Mereka akan memancang gelanggang selama tujuh hari tujuh malam.

Gelanggang bermula. Fatimah telah menjadi mempelai baru. Semua orang berbesar hati kecuali si Abdul. Kalau ia tidak bertindak, tentu Fatimah akan celaka. Lalu diputuskannya dalam hati, walau bagaimana pun akibatnya si Fatimah akan ditolongnya.

BACA JUGA : SEJARAH SILAT MINANGKABAU KUMANGO

minangisme-long-banner
Skip to toolbar