Artikel Carito Urang Gaek

Carito Mimangkabau Damang Yusuf part 2

DAMANG YUSUF PART 2
DAMANG YUSUF PART 2

Damang Yusuf  – Kemudian Yusuf dikeluarkannya dari tahanan, lalu dihadapkan kepada rakyat yang telah berkumpul itu. Di sana Yusuf dipaksa Belanda untuk menyuruh rakyatnya itu untuk tidak mengganggu Belanda lagi. Kalau rakyat patuh, Yusuf akan dikeluarkan, tapi kalau tidak, ia akan diazab. Rakyat berpikir bahwa dikeluarkan atau tidak, itu tidak jadi soal, bukankah dimana saja, Yusuf selalu dapat berperang bersama rakyatnya.

Dengan pikiran demikian, segala penghulu dan rakyat yang berkumpul itu, tidak mengacuhkan saja suruhan Belanda itu, malah ada yang menentang. Melihat sikap demikian, Belanda jadi marah, lalu dibakarnaya bensin dalam lobang.

Api mengebubu mengurung rakyat yang berkumpul, sementara Belanda mulai menembak membabi buta. Namun demikian, sementara api masih belum betul-betul mengamuk, mereka berlarian ke luar. Banyak juga terjadi korban, kena peluru ataupun terbakar. Namun sebaliknya, mulai saat itu, hati rakyat sudah tidak bisa disabarkan lagi. Sedangkan Yusuf, tetap meringkuk dalam tahanan.

Belanda semakin tidak aman, terutama malam hari. Mereka sekaan telah hampir putus akal. Namun kini, dicobanya cara lain. Di Palembang adalah Raja Toruk yang sejak lama telah berkawan dengan Belanda. Oleh karena sebangsa, tentu kepandaiannya akan sepadan pula. Maka mereka dibujuk oleh Belanda, disuruh melawan orang-orang Indrapura.

Serdadu Palembang pun datang berlabuh di Indrapura. Terjadi perang. Namun, seperti sebelumnya, walaupun tubuh dalam tahanan, arwah Yusuf ikut mengganas melawan tentara Palembang. Akhirnya, tentara Palembang musnah. Gagal pula usaha Belanda yang kedua kalinya ini.

BACA JUGA : ABU NAWIR SI PERANTAU INDRAPURA, MINANGKABAU

damang-yusuf

Hilang akal Belanda bagaimana caranya menaklukan hati rakyat Indrapura ini. Pernah mereka memutuskan membunuh saja Yusuf ini,. Waktu dicoba ternyata Yusuf tidak mempan dengan peluru, ia tahu dengan asal besi. Kemudian secara diam-diam dibawanya Yusuf ke tepian, dibenamkannya dalam air. Namun seminggu lamanya dalam air, ia tidak apa-apa, Belanda semakin hilang akal.

Akhirnya ditempuh jalan lain. Dilepaskan Yusuf kembali ke tengah rakyatnya. Diperlakukan ia dengan lemah lembut, dengan harapan supaya bisa membujuk anak buahnya untuk tidak mengganggu lagi. Namun ini hanya angan-angan Belanda ; adapun bagi Yusuf serta rakyatnya, penderitaan yang telah dialaminya, maupun oleh seluruh rakyat, menyebabkan dendam yang semakin meningkat. Belanda akhirnya menyadari sekali, bahwa walau Yusuf telah lama bebas, rakyat semakin memperlihatakn sikap yang tidak bersahabat.

Kini mereka biarkan rakyat dengan sikapnya yang demikian. Kemudian didatangkan orang asing sebanyak-banyaknya kesana. Tujuannnya adalah supaya orang-orang asli semakin terjepit apalagi orang-orang baru datang ini dapat pula dijadikan perisai. Mulai saat ini berdatanganlah ke sana orang-orang Belanda, orang-orang Cina, orang-orang Jambi serta Palembang. Perkampungan mereka adalah di daerah Hilalang sekarang, di mana pada waktu ini dapat dilihat makam-makam Cina dan Belanda yang amat banyak di sana.

Belanda dan Cina, kerjanya lebih banyak menipu dan menindas rakyat. Tambahan pula mereka memelihara dan memakan babi, yaitu yang dipantangkan rakyat. Memang pada akhirnya antara Yusuf dan Belanda telah diadakan kesepakatan untuk tidak lagi mengganggu Belanda, namun perbuatan orang-orang asing itu sangat menyusahkan hati orang banyak.

Demikianlah pada suatu kali, oleh karena Belanda merasa terlalu banyak masalah yang timbul, diadakanlah rapat antara Yusuf beserta penghulu-penghulu dengan Belanda pada suatu lapangan. Disana terjadi soal jawab, dan pertengkaran.

Yusuf menuntut supaya orang-orang asing itu jangan menyingguh rakyat lagi, sedangkan sebaliknya Belanda menuduh Yusuf beserta pemimpin-pemimpin lain, jadi naik darah. Berbisik Yusuf dengan pengikut-pengikutnya itu, “Kalau begini busuknya Belanda, tidak mungkin kita berlemah-lembut juga. Kita harus bertindak saja dulu, soalnya dihitung kemudian”. Putuslah pemufakatan mereka waktu itu.

BACA JUGA : CERITA MINANGKABAU AMPU BEROYO DAN ABDUL PART 3

Seperti babi luka, Yusuf beserta pengikutnya meneyerbu ke depan. Mereka mengamuk terhadap Belanda-Belanda itu. Yusuf berhasil memancung Kapten Belanda, sedangkan pengikutnya mengeroyok yang lain. Banyak korban jatuh. Kemudian mereka lari; orang banyakpun berlarian sehingga rapat menjadi usai.

Sejak saat itu, bermulalah perselisihan dan pembunuhan-pembunuhan yang tak berkesudahan. Negeri tidak pernah aman lagi. Sifat rakyat telah betu-betul berobah, dari lemah lembut menjadi sekeras batu. Bertindak terlebih dahulu, nanti soalnya dihitung kemudian. Sampai sekarang demikianlah sifat rakyat disana. Dan dari sana pula berasalnya nama daerah itu sampai sekarang, yaitu Pancung Soal; dari pengertian, dipancung dulu, soalnya dihitung kemudian.

Dalam kekalutan pembunuhan di atas, rupanya Yusuf tertangkap oleh Belanda. Kemudian ia dihukum. Ia meninggal di Indrapura ini. Ia dikuburkan dekat makam ayahnya Raja Indra serta ibunya, yang terletak antara Pasar Ganting dan Lubuk Gedang. Konon sampai sekarang kuburan itu sangat harum di malam hari.

minangisme-long-banner
Skip to toolbar