Artikel Carito Urang Gaek

Bujang Kirai Minangkabau

bujang-kirai-minangkabau

Bujang Kirai – Di daerah Pesisir pernah memerintah seorang Raja bernama Sutan Badutai. Permaisurinya adalah Putri Ngirok Arai. Mereka punya satu-satunya anak, perempuan, yang bernama Putri Sawang Langit, yang telah berumur tujuh belas tahun. Pada umur demikian sudah harus dicarikan jodoh, kalau tidak sudah dianggap terlambat.

Usaha untuk mencarikan jodohnya berhasil dengan cepat. Jodohya bernama Sutan Malintang Alam, anak dari Sutan Anjung Sati bersama Isterinya Rubiati dari negeri Teluk Muara Nipah.

Tiba pada masa yang ditentukan, maka dilangsungkanlah perkawinan. Dipancang gelanggang selama tujuh hari tujuh malam. Orang berdatangan dari segenap pelosok, maklum Raja yang mengadakan gelanggang.

Di negeri Muara Bodi, tidak jauh dari tanah Pesisir, memerintah pula raja yang bernama Sutan Malako, dengan permaisurinya Siti Asnah. Siti Asnah punya seorang anak laki-laki yaitu Bujang Kirai; serta punya seorang adik laki-laki bernama Sutan Panduko.

Adapun Sutan Panduko, mendengar Raja Badutai memancang gelanggang, ia pun berhasrat hendak pergi. Ia minta izin pada kakaknya, dan dengan mengepit ayam biring kuningnya, ia pun berangkat. Tidak berapa lama di perjalanan, ia pun sampai di sana. Bukan main ramainya umat di gelanggang.

Dicari padanan ayam biring kuningnya. Payah mencari, dapatlah lawan yaitu ayam tadung Sutan Dihulu. Sutan Dihulu ini berasal dari Teluk Muara Nipah  juga, dan datang ke gelanggang bersama isterinya Siti Rosni.

BACA JUGA : CERITA MINANGKABAU DAMANG YUSUF

cerita minangkabau bujang kirai
cerita minangkabau bujang kirai

Maka diadulah kedua ayam itu setelah lama berlaga, malang bagi Sutan Dihulu, ayamnnya ternyata kalah. Karena panasnya, dikeluarkan ayam seekor lagi, yaitu kurik pinang masak. Diadu lagi. Ayam ini pun kalah pula. Dengan panas ia berkata “Tahukah kau buyung, adat bagiku adalah, kalau menang menerima, kalau kalah tidak membayar. Belum pernah aku mengeruk saku di gelanggang. Bagaimana pikiranmu”? Menjawab Sutan Panduko, “ Saya ke sini bukan mencari lawan. Sepanjang pengetahuan saya, kalau berjudi di gelanggang selalu berkalah menang. Kalau kalah membayar, kalau menang menerima itulah adat yang kuwarisi”. “ Kamu jangan banyak bicara. Mari kita coba agak sejamang pembuang-buang peluh buruk”. Perkelahian tidak bisa dihindari.

 

Perkelahian kelihatan seimbang, Sutan Paduko lebih banyak mengelak dari pada menyerang. Akhirnya ia berkata, “Penat bergalah, sekarang aku membalas lagi, penat mengalah, kini aku membalas lagi”. Maka balik Sutan Paduko menyerang. Masuk empu kakinya di arah hulu ati Sutan Dihulu. Ia tergeletak, langsung meninggal dunia.

Orang ramai berkerumun mengelilingi jasad Sutan Dihulu. Sementara itu Hulubalang berlari mengadukan kejadian itu kepada Raja. Dengan hati yang panas, Raja berlari ke tempat kejadian, “Engkau yang bernama Sutan Paduko orang termasyhur masa kini. Tapi helat yang aku punya, helat yang bukan untuk membunuh orang. Di samping membunuh, engkau telah mengacau helatku, membuat malu ke seluruh negari. Laksana lubuk tidak berbatu. Kini kau rasakan siapa Badutai. Hai hulubalang yang banyak, rantai ia di  bilik yang sempit”.

Hulubalang menangkap Sutan Paduko yang melawan itu. Ia hanya bicara lembut, “ Aku datang kesini sengaja untuk meramaikan helat tuanku, tidak untuk mengacau. Dalam kejadian ini aku tidak salah, coba tanya pada orang banyak. Sutan Dihulu yang beraja di hari bersutan dimata. Kalah ia tidak mau membayar, malah diminta aku berkelahi. Bagiku musuh tidak dicari, bertemu pantang dielakan. Cobalah hukum oleh engkau baik-baik”.

“Jangan aku diajari”. Kata Raja.

Berkata lagi sutan Panduko, “Sekarang aku terpaksa menyerah. Tapi kalau menghukum ibarat menimbang. Jika berat ke kiri, neraka tantangannya, kalau berat ke kanan kepala pecah”. Baru saja berbicara selesai, ia dihela oleh hulubalang ke kamar tahanan.

Setelah tujuh hari helat berlangsung, gelanggang pun usai. Orang telah pulang ke rumah masing-masing. Sutan Malintang Alam pun telah hidup bersama isterinya Putri Sawang Langit.

Dalam pada itu, dibuatlah sebuah peti besar oleh hulubalang Raja Badutai. Sutan Panduko dimasukkan ke dalamnya dengan tangan kaki dirantai. Peti itu dibawa ke tepian. Berkata Badutai, “Hutang nyawa diganti dengan nayawa. Kini kau kuhanyutkan sampai dimana ajalmu”. Maka peti itu diturunkan ke laut. Peti dibawa oleh angin kencang, lalu hilang dari pandangan mata.

BACA JUGA : CERITA MINANGKABAU AMPU BEROYO DAN ABDUL

Setelah berhari-hari dihempaskan gelombang, terdamparlah peti itu ke Teluk Pisang. Teluk itu dibawah kekuasaan seekor ikan rayo besar.  Mendengar ada teriakan dari dalam peti, ikan rayo menolaknya dengan kuduknya , lalu menghempaskan ke pantai yang sangat landai. Di sana Sutan Panduko meminta pada yang Satu, lalu menghantamkan kakinya. Peti terbuka dan seluruh rantai menjadi putus-putus. Sutan Panduko keluar dengan selamat. Dilepasakannya pandangan ke sekitar, tidak tahu dimana ia sedang berada. Ia seorang diri di tempat itu. Kalau lapar, dicarinya buah dan umbi yang bisa dimakan.

Telah beberapa hari Sutan Panduko berada ditempat itu seorang diri. Sedang asyik ia bermenung menghadap lautan lepas, tampaklah sebuah pencalang semakin dekat; Sutan Panduko merasa kaget setelah tahu, seorang penumpangnya tengah berbaring seperti tidak sadarkan diri; dan ternyata seorang perempuan. Sutan Panduko menarik pencalang ini, lalu mengeluarkan penumpangnya yang tidak sadarkan diri tersebut. Akhirnya, ia sadar. Di sana tahulah Sutan Panduko bahwa wanita itu tidak lain adalah Siti Rosni. Isteri Sutan Dihulu yang dibunuh oleh Sutan Panduko. Rupanya saat kematian suami, ia panik, lari ke kapalnya, berdayung seorang diri, lalu dihanyutkan gelombang.

Sedih hati Sutan Panduko memikirkan nasib Siti Rosni.  Dapatlah kesepakatan bahwa Rosni akan diantarkan ke kampungnya Teluk Muara Nipah. Dengan demikian pun Sutan Panduko akan bebas dari keterpencilannya di pulau yang tidak ia ketahui itu.

minangisme-long-banner
Skip to toolbar