adu balam - musyawarah mufakat
Adat Artikel

BARADU BALAM, musyawarah mufakat

Setiap kegiatan adat di daerah Minangkabau, biasanya menggunakan kata sepakat yang dicari melalui alur pasambahan atau parundiangan. Musyawarah mufakat ini sangat tinggi kedudukannya di mata adat, sehingga keluarlah pepatah yang mengatakan; “Jikok kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka Pangulu, Pangulu barajo ka mufakat, mufakat badiri sandirinyo”. sumber: Fitrayadi.com

Musyawarah mufakat sangat diperlukan dalam kehidupan bersama, baik dalam ruang lingkup keluarga maupun masyarakat, mulai dari perkumpulan kecil sampai kepada lembaga antar bangsa, dan itu ada aturannya dalam Islam. Musyawarah juga memiliki posisi mendalam dalam kehidupan Islam. Bukan hanya di dalam sistem politik pemerintahan, namun juga merupakan karakter dasar umat Muslim itu sendiri. Segala bentuk keputusan yang ada, bukan di tancapkan dengan satu pendapat yang tidak bisa dibatalkan atau dengan memaksakan kehendak. Masyarakat minangkabau mencarinya dengan parundiangan sebagai medianya.

musyawarah mufakat

Selain dari panitahan parundiangan juga ada pasambahan pida adat (pasambahan mudo) yang biasa dipakaikan oleh para anak muda yang jolong gadang. Namun hal itu digunakan sebatas mereka belum menikah. Setelah mereka menikah, kegiatan itu sudah jarangn dipakaikan, bahkan tidak ada lagi sama sekali. Karena mereka yang sudah menikah juga akan digantikan oleh anak muda berikutnya yang fasih pula berpidato.
sumber : delfiantobatuah

Para laki-laki yang telah menikah tadi diistilahkan dengan “urang yang telah memakai adat” atau memangku beban. Maka mereka menggunakan parundiangan bila ada acara-acara adat yang mereka hadiri.

minangisme-long-banner
Skip to toolbar