kaba-baiak-baimbauan1
Adat Artikel

Adat Undangan Pernikahan dalam Minangkabau

Pernikahan dalam Minangkabau adalah salah satu momen sakral tidak hanya sebatas terjalinnya hubungan antar individu melainkan menjalin hubungan antar keluarga masing-masing individu.

Hukum pernikahan di Minangkabau berdasarkan al Qur’an “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah, Syara’ Mangato, Adat Mamakai.” Maka hukum pernikahan dalam minangkabau tidak akan berlawanan dengan hukum ISLAM, karena hukum adat minangkabau berpedoman kepada Al-Qur’an dan Hadist. Adapun tata cara undangan pernikahan di Minangkabau masih menganut Adat istiadatnya karena tidak bertentangan dengan Hukum Agama ISLAM (Syara’).

Salah satu tradisi undangan pernikahan di Minangkabau adalah Maanta Kampia siriah kerumah tetangga, sanak saudara, niniak mamak, sesepuh yang paling dekat dengan keturunan ibu. Filosofi dari kegiatan Maanta Kampia Siriah yaitu untuk mengundang orang-orang terdekat untuk datang membantu resepsi pernikahan, bermusyawarah untuk menimang dan menilai calon sang mempelai.

Kebiasaan orang minang dalam hidup bertoleransi dengan sesama ditanamkan oleh  Pepatah yang berbunyi “KABA BAIAK BAIMBAUAN, KABA BURUAK BAHAMBAUAN.” yang artinya apabila kita hidup bermasyarakat sedang bersuka cita akan sesuatu (mendapat reseki/senang) maka undanglah orang-orang terdekat terlebih dahulu agar bisa berbagi kebahagiaan, sedangkan sebaliknya Apabila terjadi musibah, jangan pikir panjang untuk membantu.

Sama halnya dengan penjelasan artikel terdahulu tentang KETERLIBATAN MASYARAKAT DALAM PERNIKAHAN DI MINANGKABAU menjelaskan tentang bagaimana peran dan fungsi masyarakat dalam pernikahan di minangkabau seperti Maantaan kampia siriah “maanta kampia siriah karumah laki-laki(bisa sebaliknya/tergantung masing2 daerah)” maksudnya adalah bisa kita katakan dengan proses peminangan/ pelamaran tetapi peminangan disini adalah peminangan secara adat karena peminangan dilakukan oleh pihak perempuan kerumah pihak laki-laki. Dalam proses maantaan kampie siriah ini pihak dari perempuan membawa makan-makanan seperti: kue, pisang dan buah2 lainnya. Disaat proses ini dilakukan maka ada beberapa hal yang diperbicangkan diantaranya:

  • Membahas dan memastikan uang jemputan untuk laki yang telah disepakati oleh mamak-mamak kedua belah pihak.
  • Melakukan tukar tando (berupa cincin) antara kedua belah pihak dan melaksanakan ikatan perjanjian.
  • Memperikatkan antara mamak perempuan dengan mamak laki-laki dengan megucapkan suatu akad
  • Pihak perempuan memberikan uang urak selo kepada pihak laki-laki diluar uang jemputan, dimana uang jemputan harus diberikan pada malam itu, berbeda dengan uang jemputa yang boleh diberikan pas waktu pesta perkawinan dilakukan, jumlah uang urak selo yaitu satu emas sebagaimanasebagaimana yang diatur oleh adat pihak laki-laki. Uang urak selo ini diberikan kepada peghulu/ orang tua dari pihak laki dimana uang ini akan diberikan kepada orang-orang yang hadir pada malam kampie siriah dilaksanakan.
  • Menentukan hari Pernikahan dan pesta.

BACA JUGA : SEJARAH PERNIKAHAN DALAM MINANGKABAU

minangisme-long-banner
Skip to toolbar