Artikel Carito Urang Gaek

Abu Nawir Si Perantau Part 2

abu-nawir-pendekar

Kelanjutan Abu Nawir – Pagi harinya ia berangkat mengarah pulang. Hari ketiga ia sampai ke tepian kampung, di pinggang bukit tempat ia memandang tampaklah orang ramai-ramai setentangan rumahnya. Ia heran memikirkan apa yang telah terjadi. Lalu ia bertanya pada seorang tua yang sedang asyik membenahi kebun sayurnya.
Orang tua itu berkata, “menurut kabarnya, di sana ada dua orang bersaudara. Mereka pergi ke kuburan mamaknya di Gunung Lesung yang keramat itu untuk menuntut ilmu. Malang tak dapat ditolak, meninggallah adiknya dimakan seekor ular naga besar. Kini orang di sana meng-empat-puluh-hari kematian anak itu. Demikianlah berita yan gku dengar.”
“Oh, begitu. Terima kasih, Pak,” jawab Abu Nawir.
Abu nawir undur pelan-pelan sambil berpikir juga tentang bagaimana sebaiknya.
Kemudian ia berkata sendirian:

Karatang mandang di hulu
Berbuah berbunga belum
Sebelum ia berumpun banyak
Merantau bujang dahulu
Di rumah berguna belum
Daripada penyusah orang banyak

Diputuskannya untuk tidak jadi pulang. Ia akan pergi merantau meneruskan niatnya semula. Ia akan ke negeri Jambi walaupun apa yang akan terjadi. Ia pun berangkat. Diturutinya sungai di sana arah ke udik. Setelah lama dalam perjalanan, sampailah ia di tempat yang bernama Serampas. Di sana, di sebuah pesawangan, ia dihadang oleh tiga orang penyamun. Seorang dari mereka berkata, “untuk kamu ketahui, kami ini Pendekar Tidur, Pendekar Duduk dan Pendekar Tegak adalah penguasa di sini; tidak ada keras yang tidak kami takik, lunak yang tidak kami sudu. Daripada berpanjang-panjang, kalau sayang pada nyawa serahkan saja segala harta yang dibawa.”
Mendengar itu, termenung kemudian Abu Nawir lalu berkata, “tuan yang tiga orang, tidak usah diulang kata seperti itu sampai dua kali; berdiri bulu romaku. Saya ke sini tidak mencari lawan.”
Menghardik penyamun itu, “jangan banyak bicara! Serahkan semuanya!”
Perkelahian pun tidak bisa dielakkan.

abu-nawir-si-perantau-minangkabau

Mula-mula Pendekar Duduk. Mereka berkelahi hempas-menghempas dengan sangat sengitnya. Akhirnya dapat ditangkap oleh Abu Nawir lalu dihempaskan ke batu; kepalanya hancur, tergeletak seketika lalu mati. Demikian pula dengan Pendekar Tidur. Ia dapat digayung oleh Abu Nawir; segala bulunya berdiri, tubuh dan mukanya hitam kemudian jatuh tergeletak. Tinggal lagi Pendekar Tegak.
Melihat makan tangan Abu Nawir, ia berkata, “tuan Muda, aku jangan dibunuh, digantung aku tinggi dibuang aku jauh.”

Mendengar pengakuan Pendekar itu, timbul rasa kasihan Abu Nawir, lalu ia berkata, “kalau betul-betul itu keluar dari hati kecilmu, kita akhiri hingga di sini. Marilah kita pergi mencari penghidupan yang layak. Dan hingga kini ke atas, kita akan berkawan.”
Menjawab Pendekar Tegak, “aku terima dengan senang hati.”
Keduanya sepakat mau meneruskan perjalanan arah ke Jambi.

Baca Juga artikel terkait : Abu Nawir si Perantau part 1
Setelah beberapa lam adalam perjalanan, mereka pun memasuki daerah Jambi. Di sebuah rumah, mereka bertanya pada seorang laki-laki setengah tua, “Bapak, adakah orang di sini mencari tukang arit kayu atau tukang takik getah? Kami dari Lubuk Panjang datang ke sini hendak mencari kerja.”
“cobalah kau pergike negeri Bedeng Tujuh, di sana banyak orang memotong para.”
Mereka meneruskan perjalanan ke tempat yang ditunjukkan orang itu. Tidak beberapa jauh berjalan, mereka berhenti di sebuah lepau. Setelah makan dan minum, Abu Nawir bertanya pada orang punya kedai, “adakah di sini orang membutuhkan pekerja untuk menakik para atau mengarit kayu?”
“oh, kita memang mempunyai kebun para sejarak satu hari perjalanan dari sini. Kalau mau, kalian bisa kerja di sana. Tapi terlebih dahulu coba ceritakan siapa nama dan dari mana asal kalian?”
Lalu diceritakan oleh Abu Nawir tentang dirinya serta temannya Pendekar TEgak. Mereka pun diterima kerja di sana.

Pada hari esoknya, mereka berangkat dengan segala perlengkapan menuju kebun para. Mereka membawa perlengkapan buat seminggu sehingga setiap akhir minggu mereka pulang buat bekal berikutnya. Pada pertama kali itu mereka diantar oleh pemilik kebu. Mereka bekerja biasanya mulai jam delapan pagi dan siap jam lima sore.
Di daerah Jambi ini memerintah Raja Ambang Dunia. Raja ini termahsyur ke mana-mana. Nagari Jambi amat ramai. Pedagang-pedagang dari seberang laut pun banyak datang ke sana.
Raja Ambang Dunia punya seorang anak. Anak perempuan bernama Putri Bawang Putih. Anak ini sudah lama sakit. Telah dicoba obat segala dukun dan tukang tenung yang ada di sana namun segala usaha belum berhasil. Raja pun menjanjikan akan memberi hadiah yang besar kepada siapa saja yang bisa mengobatnya.

abu-nawir-pendekar
Dalam pada itu, induk semang Abu Nawir terpikir-pikir. Ia teringat cerita Abu Nawir tentang pertapaannya di Gunung Lesung. Ia teringat pula akan Pendekar Tegak yang memang termahsyur ke mana-mana untuk daerah Serampas. Teringatlah induk semang ini untuk mencoba mengatakan pada anak semangnya kalau-kalau mereka bisa, untung-untung berhasil.
Besok paginya ia berangkat ke kebun para lalu diceritakan tentang keadaan penyakit anak Raja Jambi itu. Mereka sama-sama termenung, kemudian berkata Abu Nawir, “rasanya tidak mungkin, tapi aku percaya Pendekar Tegak mungkin bisa. Cobalah oleh Pendekar Tegak terlebih dahulu.” Dan Pendekar Tegak tidak mengelak dalam hal itu.
Pendekar Tegak pun berangkat bersama induk semangnya menuju rumah Raja. Ia dihadapkan kepada Raja kemudian langsung masuk ke pambaringan Putri Bawang Putih. Dipergunakannya segala kepandaiannya lalu meminta kepada yang satu.

minangisme-long-banner
Skip to toolbar