Artikel Carito Urang Gaek

Abu Nawir Si Perantau Indrapura, Minangkabau

abu-nawir-si-perantau-minangkabau

Setelah demikian lama menanggung sakit, meninggallah Bagindo Ali. Kini tinggal istrinya, Putri Bunga Durian beserta dua anaknya. Kedua anak itu laki-laki, yang tua bernama Abu Nawar dan yang muda bernama Abu Nawir. Kini keluarga itu benar-benar tidak punya laki-laki lagi selain kedua anak itu. Dulu mamaknya yang meninggal sekarang ayahnya. Kalau ditahan terus di rumah, masih akan semakin buruk sedangkan mereka masih muda-muda. Inilah yang menyebabkan mereka teringat hendak pergi merantau.

Yang pertama berpikir demikian adalah Abu Nawar. Berkata ia pada adiknya, “coba kau dengar, kini yang tinggal hanya ibu sendiri. Kita tidak bisa menggantungkan nasib padanya, ia sudah tua dan lemah. Malah kita harus menyenangkan hidupnya di hari-hari tua ini. Daripada berputih mata tinggal di kampung ini, bagaimana kalau kita pergi merantau?”

Abu Nawir menjawab,”aku setuju, tapi aku tidak tahu ke mana atau kerja apa. Aku serahkan saja pada kakak.”

“kita pergi ke Jambi . Mari minta izin pada ibu”, Kata Abu Nawar.

Mereka membicarakan itu pada ibunya persis sesusdah  tujuh hari ayahnya meninggal.” mak, semenjak Bapak meninggal, rasanya tidak ada lagi tempat mengadu. izinkanlah kami pergi merantau ke tanah Jambi, mudah-mudahan berubah nasib kita.”

Ibunya menjawab, ” kalau itu niat kalian, aku tidak akan mengijinkan sebelum kalian berumah tangga,. Jika telah berumah tangga akan ada yang mengikat kalian untuk memikirkan kami yang tinggal.”

“bagaimana kami bisa kawin sebelum berpenghasilan,” Jawab Abu Nawar.

Si Ibu tertegun sejenak kemudian berkata, “kalian benar pula. Aku tidak bisa menolaknya, namun satu yang menjadi pikiranku. Jambi adalah rantau yang amat jauh, banyak gunung yang harus didaki dan lurah yang harus dituruni. “Sebanyak yang sayang, sebanyak itu pula yang benci pada kita.” Bagaimana kalau dibekali terlebih dahulu diri kalian?

abu-nawir-si-perantau

“Kalau demikian, aku turut kata ibu,” jawab Abu Nawar.

Berkata pula ibunya, “kalian tahu, semenjak dahulu kita adalah orang yang terpandang. Mamakmu bernama PANDEKA PUNAI adalah orang yang termahsyur. Ia meninggal akibat berkelahi dengan Sutan Amirullah karena memperebutkan anak gadis Sutan Lenggang Alam. Perkelahian mereka tidak berkesudahan. Kemudian ia dituba oleh Sutan Amirullah. Seketia ia tahu, dibalasnya dengan gayung urat sehingga sekalian bulu menanggung sakit dan sekalian pori mengeluarkan darah. Sekarang mamakmu telah terbaring di Gunung Lesung. Jadi sebelum merantau, pergilah terlebih dahulu ke sana mudah-mudahan turun segala kepandaian mamakmu itu. Demikianlah pesannya yang sekarang ku sampaikan pada kalian.”

Mendengar keterangan ibunya itu, tersentaklah mereka dan meminta untuk segera pergi. Dengan dibekali sekadarnya oleh ibunya, kedua adik kaka itu berangkat menuju Gunung Lesung di pagi buta. Mereka hendak bertapa di kuburan mamaknya. Tiga hari lamanya mereka berjalan barulah sampai di tempat yang dituju. Dari jauh telah tampak sebuah kuburan tua, bunga kamboja sudah sangat tinggi, nampak pula sebuah batu nisan yang cukup tinggi. Mereka mendekatai tempat itu. Tiba-tiba mata mereka melotot; batu nisa itu dililit oleh seekor ular naga yang amat besar. Mereka berhenti.

Dengan memandang tajam pada ular naga, Abu Nawar berpikir-pikir dalam hati,”bagaimana bisa bertarak (betapa) pada nisan yang berpenghuni itu? Ular naga tampaknya siap menyerang. Bertarak disana berarti mati.”

Setelah lama hanyut pada pikiran masing-masing, berkatalah Abu Nawar kepada adiknya, “tidak mungkin rasanya meneruskan niat kita. Kalau tidak dituntuk betul ilmu itu, toh kita tidak akan mati. Mari kita pulang saja.”

Mendengar itu, mengeluh Abu Nawir , dipikirnya memang betul apa yang dikatan kakaknya. Sebaliknya ia merasa malu untuk surut sebelum pergi. Dengan tenang, dijawabnya kata kakaknya, “bagaimanapun saya memutuskan untuk tidak kembali. Kembalilah kaka sendirian, saya akan tinggal di sini. Saya ingin mencoba, kalau mati apa boleh buat, esa hilang dua terbilang.”

abu-nawir-si-perantau-minangkabau

Paya Abu Nawar melunakkan hati adiknya tapi tidak berhasil. Lalu ia pun telah tetap dengan hatinya,”kalau demikian kerasnya hatimu, akupun sudah tidak bisa mencegahnya. Aku kembali pulang.”

Pada saat itu, Abu Nawar diliputi rasa takut yang sangat, badan serasa bayang-bayang, serasa telah ditelan ular besar. Ia pun bergegas pulang. Tiga hari dalam perjalanan ia pun sampai di rumah. Wajahnya tidak segar dan kumal. Dengan nafas sesak, ia berkata pada ibunya yang juga sangat terkejut.

“ia telah ditelan naga besar. Hatinya tidak bisa dilunaki untuk dibawa pulang, hilang akalku dibuatnya. Tapi tidak apalahm toh aku selamat; masih ada.”

Si Ibupun terkulai karena sedih, tapi apa hendak dikata mereka menjadlani nasib masing-masing.

Adapun Abu Nawir si Perantau kini tinggal sendirian, akibat letihnya ia menyandarkan diri pada batang kayu besar. Daun kayu di sana jabat-berjabat sehingga di bawahnya kelindungan. Hari telah berangsur senja, Abu Nawir pun tertidur. Rupanya dalam tidur itu ia bermimpi rasanya datang seorang laki-laki tua dengan jenggot berjelo (menyentuh) ke tanah. Orangtua itu berkata, “naga itu adalah ujian penutup ilmu. Kalau engkau benar-benar hendak mendapatkan ilmu, tabahlah di sini. Ilmu itu didapat secara berangsur-angsur Bukan diperdapat kapan kita ingat. Aku akan datang tiap malam.”

Mimpi berakhir Abu Nawir pun terbangun. Seekor harimau melompat di dekatnya. Ia terkejut dan pucat. Dia membuang pandangan ke sekitar; masih gelap gulitam yang kedengaran hanyalah bunyi kala dan lipan, bunyi si kekeh dan burung hantu. Bulu tenkuknya semakin berdiri. Rasanya tidak akan sanggup ia untuk terus berada di sana seperti diisyaratkan orangtua itu. Tapi sebaliknya, langkah telah terlanjut dilangkahkan pantang pula berbalik surut. Dipicingkannya matanya dan iapun tertidur kembali. Tidak lama kemudian, mulai berkicau menandakan hari telah pagi.

Adapun kerja Abu Nawir di sana sehari-hari adalah kalau hari siang ia mencari makan; urat, batang atau buah-buahan. Kalau malam, orangtua itu pun datang mengajarinya segala ilmu dan kepandaian. Demikianlah kerjanya sehari-hari.

Telah lebih satu bulan ia berada di sana, telah diperdapat pula segala ilmu yang diperlukan. Akhirnya pengajaran itu diputusi. Mula-mulai diuji dengan jin dan peri, kemudian dengan harimau. Akhirnya dengan ular naga yang melilit nisan mamaknya itu.

Pada malam itu sedang pekar, gurunya tegak menyaksikan Abu Nawir berkelahi dengan naga tersebut. Hempas menghempas. rasanya perkelahian tidak akan berkesudahan. Akhirnya dicoba kepandaian yang penghabisan. Dapat ditangkapnya ekor ular itu dan serentak dengan itu, darah memercik dari bawah seluruh sisik; ular  pun tergeletak mati. Selesailah pengajaran Abu Nawir.

Selama itu juga diadakan perpisahan dengan guruya. Guru itu pergi dan pada saat itu melompat harimau dari dadanya mengarah ke rimba lalu hilang di kegelapan malam.

Pagi harinya ia berangkat pulang. Apa yang terjadi di kampungnya? ikut terus cerita rakyat dari Indrapura ini ya!!

minangisme-long-banner

About the author

Profile photo of admin

admin

1 Comment

Click here to post a comment

Skip to toolbar