Adat Artikel

4 Cara Gadai Harta Pusaka Tinggi

tari-piriang

Adat Minang tidak mengenal istilah hak jual untuk Harta Pusaka Tinggi, yang boleh hanya digadaikan.

Yang dimaksud dengan menggadaikan Harta Pusaka Tinggi adalah memindahkan untuk sementara hak garapan atas sebidang tanah dari pemilik kepada orang lain dengan menerima imbalan sejumlah uang yang disepakati antara tanah dengan pemegang gadai.

Penebusan biasanya dilakukan paling cepat pada tahun ketiga setelah perjanjian pegang gadai dilakukan – dengan menerima kembali uang imbalan seutuhnya. Selama masa gadai, pihak pemegang gadai berhak penuh untuk menggarap dan menerima hasil garapan seluruhnya.

Yang lazim dijadikan objek gadai di Minangkabau adalah harta tak bergerak seperti sawah, ladang, tambak ikan dan tanman tua seperti pohon kelapa , cengkeh, coklat dan lain sebagainya.

Misalnya seseorang ingin menghibahkan harta kaum kepada anaknyo, gadai dapat di tempuh dengan cara sando agung yaitu gadai yang diniatkan untuk tidak ditebus. Sando agung ini dipakai sebagai ganti transaksi jual beli di mana sando artinya gadai dan agung berarti besar atau lama. Atau berarti gadai untuk selama-lamanya.

Tindakan gadai merupakan yang dibolehkan oleh adat karena keadaan terpaksa sehingga membutuhkan uang secepatnya.

 

minangisme

 

Keadaan terpaksa atau keadaan darurat yang membolehkan harta untuk digadaikan adalah;

  1. Mayat tabujua di tangah rumah gadang
    Dalam Hal ini kematian tapi pihak keluarga tidak mempunyai biaya yang cukup mengadakan pnguburan.
  2. Gadih gadang indak balaki
    Jika kemenakan perempuan belum bersuami terlebih bila anak perempuan tunggal. Hal ini menjadi kerisauan karena akan menyebabkan “punah”. Bila perlu dicarikan orang jemputan untk menjadi suami dengan memberika uang jemputan.
  3. Mambangkik batang tarandam
    Bila gelar pusako telah lama “balipek” karena tidak cukup biaya untuk upacara batagak panghulu, maka boleh melakukan gadai.
  4. Rumah gadang katirisan
    Atau disebut juga panutuik malu diri. Jika salah satu anggota kaum berutang dan belum dapat dilunasi, daripada malu seluruh keluarga terpaksa menggadai. Begitu pula bila rumah gadang sebagai rumah milik bersama sudah rusak seperti bocor atau lapuk, maka diperbolehkan menggadai untuk keperluan perbaikan rumah gadang.

tari-piriang

 

Di zaman sekarang, keadaan darurat itu sudah bertambah pula seperti membayar biaya kuliah, pengobatan si sakit, biaya merantau, kadangkala untuk ongkos naik hari bahkan untuk membeli motor  pun di anggap keadaa darurat.

minangisme-long-banner
Skip to toolbar